Politik


SUDAHKAH KITA BERPOLITIK DENGAN BENAR

Pada dasarnya politik itu baik. Politik baik, karena tujuannya baik. Menurut Aristoteles, politik tidak dapat dipisahkan dari umat manusia, karena, manusia pada hakikatnya adalah makhluk politik (homo politicus). Sudah menjadi pembawaannya manusia hidup dalam suatu polis (kota, baca: komunitas). Hanya dalam polis manusia dapat mencapai nilai moral yang paling tinggi. Di luar polis, manusia menjadi subhuman. Karena itu, mau tidak mau manusia mesti berpolitik dan terlibat dalam urusan-urusan politik.

Ada dua tokoh nasional yang berbicara pada saat yang bersamaan tentang tema yang sama pula namun pada tempat dan kesempatan yang berbeda. Tepatnya terjadi pada 19 Mei 2007. Dalam acara pelantikan DPD GMNI Jabar di Bandung Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin mengatakan ulama tidak bisa dipisahkan dari aktivitas politik karena dalam Islam peranan mereka sangat terkait dengan kehidupan politik. Pada saat yang sama di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan, kyai atau ulama boleh saja terjun ke dunia politik karena berpolitik bagi kyai dan ulama bukan sebuah kesalahan, apalagi kejahatan. 

Politik itu berguna untuk menata kehidupan publik menuju tujuan akhirnya yakni kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin. Politik bertujuan menyelenggarakan bonum commune (kepentingan umum, kesejahteraan bersama) yang berarti: memfasilitasi manusia untuk mengusahakan apa yang dibutuhkannya untuk hidup layak secara manusiawi. Hidup layak manusiawi berarti kemudahan untuk memenuhi kebutuhan wajar untuk dapat hidup yang sesuai dengan martabat pribadi manusia.

Jangan lah engkau tidak suka bahkan membenci politik…!!! Karna politik itu salah satu seni untuk mengatur Republik tercinta ini. Yang harus kita benci adalah politikus kotor. Seni berpolitik harus diterapkan dan difahami oleh rakyat. Mari kita bersama2 belajar politik yg benar untuk Republik tercinta ini

Kenapa Kita Harus Terjun Di Politik?

 

Politik merupakan sebuah cara cantik tersendiri untuk mendapatkan kebijakan akan suatu hal. Kita tahu adanya undang-undang bukan? Atau simplenya aturan. Aturan ini tercipta dari berbagai pertimbangan. Disinilah politik “bermain”.

 


Memang, pada intinya tujuan dari politik adalah kekuasaan. Bagaimana kepentingan bisa terakomodir. Adakah yang salah dengan kekuasaan dan kepentingan???

Jelas, ketika kekuasaan itu digunakan untuk mengakomodir kepentingan yang tidak baik.

contoh simplenya antara dosen dengan mahasiswa. Dosen memilki kekuasaan untuk nilai mahasiswa. Iya bukan? Jika dosen ingin memberikan nilai A pada seorang mahasiswa padahal mahasiswa tersebut belum layak mendapatkan nilai A pada matakuliah tersebut, ini jelas penyalahgunaan kekuasaan. Sepakat bukan!

 

Atau dalam tataran pemerintahan, yah sebut saja Bupati. Bupati memberikan ijin pertambangan ke sebuah perusahaan padahal dengan beberapa pertimbangan seharusnya tidak boleh. Ini penyalahgunaan kekuasaan bukan? Sepakat!

 

Tahap selanjutnya…

Kita sebagai rakyat jelata memilki obsesi membangun pendidikan yang baik untuk masyarakat. Kita memiliki keinginan/kepentingan untuk membuat sebuah sekolah gratis untuk masyarakat. Butuh perijinan bukan? Minimal ke kecamatan. Bagaimana jika niat baik kita tak terealisasi karena arogansi Bupati dengan tidak memberikan ijin. Repot bukan???

 

Sekarang coba kita fikirkan….

Jika posisi-posisi strategis tersebut diduduki oleh orang yang menyalahgunakan kekuasaan apa dampaknya??? Amburadul bukan??? Parah!!!

 

Jika banyak orang yang bilang. Kalian anak-anak BEM(DPM/senat juga lho) teriak2 demonstrasi protes ini itu ke pemerintah karena telah korupsi dan macem-macem, tapi besok kalian menduduki kursi meraka… Munafik !!! (weh…sabar bro…)

 

Gini teman, jika ada yang tidak baik, emang salah kalau kita negur atau mengingatkan??? Asal yang sopan bukan? Kl kita rakyat jelata susah ketemu berbicara dengan pak presiden dan para anggota dewan, wajar nggak kita demo sebagai cara kita berbicara agar di dengar??? Siip. Sepakat downk!!!

 

Kalau suatu masa kita menempati kursi mereka memang ada yang salah???

Lebih parah lagi kalau kita sudah berkoar-koar tentang kesalahan-kesalahan mereka tapi kita tak mau “menjadi mereka” !!! lho… kenapa?

Karena itu berarti kita hanya OMDO (Omong doank). Kita nggak tau rasanya jadi mereka yang berhimpit dengan masalah-masalah. Dan kan kita punya solusi sebagai generasi muda untuk memperbaiki bangsa, kenapa tidak kita mewakafkan potensi-potensi kita untuk kebaikan bangsa yang kita cintai??? Kalau nggak mau, egois namanya!

 

Fokus pada tujuan !!!

Coba kita fikirkan, jika kita memiliki pemimpin-pemimpin yang baik akhlaknya, cerdas fikirannya, memikul tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. Kebaikan kita bersama bukan yang akan tercapai?

 

BOHONG jika kita tidak mau berpartisispasi membangun bangsa dengan tidak mau terlibat di dalam politik!!!

Kita bisa membangun lewat wirausaha, pendidikan dll. tapi coba, aturan yang memegang kan di “pemengang kekuasaan” ! so, minimal kita turut andil dalam memilih pemimpin yang baik.

 

“Bagaimana mendapat kekuasaan hanyalah bagian awal dari politik, karena yang kita fikirkan selanjutnya adalah bagaimana kita memanfaatkan kekuasaan untuk kebaikan”

 


Apa alasan Ahok terjun ke politik?



Ada Beberapa alasan:

Pertama, di tahun 1995 saya mengalami sendiri pabrik saya ditutup karena melawan pejabat yang sewenang-wenang. Meski saya datang dari salah satu keluarga cukup berada di kampung, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itu bapak saya mengingatkan pada saya satu pepatah: orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan nantang pejabat. Saya sempat berpikir mau tinggal di luar negeri saja, tapi papa saya melarang dan mengatakan bahwa satu hari rakyat akan memilih saya untuk memperjuangkan nasib mereka. Jujur waktu itu saya tertawa di dalam hati.

Kedua, sejak kecil saya melihat bagaimana bapak saya dengan mudahnya membantu orang. Bahkan dia rela untuk berhutang demi bisa membantu rakyat. Secara perlahan saya pun jadi ikut mencontoh papa. Papa saya mengatakan bahwa jika saya suka lawan pejabat dan suka bantu orang miskin, lebih baik jadi pejabat saja karena kita tidak akan pernah punya cukup uang untuk bantu orang miskin. Misalnya 1 milyar kita bagikan kepada masyarakat masing-masing 500 ribu, hanya akan cukup dibagi untuk 2000 orang. Mereka pasti juga akan kembali jadi miskin. Tapi jika saya gunakan 1 milyar itu untuk berpolitik merebut APBD, saya bisa menguasai anggaran APBD (yg juga merupakan uang rakyat) dan dapat membuat kebijakan2 yang bisa mendatangkan KEADILAN SOSIAL. Karena pengalaman pahit pribadi, beban sosial di nurani saya, dan keyakinan di atas, saya putuskan untuk berpolitik.

 

SKEMA PERAN DPR DALAM PEMERINTAHAN DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: