Rumput Laut Bahan Pupuk Organik Prospektif

Indonesia sangat kaya akan bahan alami untuk pembuatan pupuk organik. Di lautan ada yang cukup prospektif namun belum banyak dimanfaatkan, yakni rumput laut. Prospektif karena selain terdapat melimpah di perairan Nusantara, juga kaya hara mikro dan teristimewa zat pengatur tumbuh.

Jamal Basmal dari Balai Besar Riset Pengolahan dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan dalam satu uraian menyatakan keistimewaan rumput laut sebagai pupuk organik adalah kekayaan kandungan zat pengatur tumbuh (ZPT)-nya. ZPT tidak hanya dapat meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan serangan serangga, serta memperbaiki struktur tanah.

Penggunaan rumput laut sebagai bahan dasar pupuk organik di Indonesia belum banyak padahal potensi produksinya cukup besar. Indonesia kaya akan ragam rumput laut yang diperkirakan mencapai 555 jenis.

Ada sekitar 22 jenis yang telah dimanfaatkan secara tradisional, tetapi baru segelintir yang dimanfaatkan secara komersial. Di antaranya ialah Gracilaria sp dan Gilidium sp yang menghasilkan agar, dan Euchemia cottoni/Kappaphycus alvarezi dan E. spinosum untuk memperoleh karaginan.

Hara mikro dan ZPT
Rumput laut diketahui mengandung banyak hara mikro besi, boron, kalsium, tembaga, khlor, kalium, magnesium, dan mangan. Selain itu juga mengandung ZPT seperti auksin, sitokinin, giberilin, asam abisat, etilen, posfor, sulfur dan seng.

Basmal mengungkapkan hasil analisa yang menunjukkan kandungan nitrogen rumput laut mencapai 1,00%, posfor 0,05%, kalium 10,00%, kalsium 1,20%, magnesium 0,80%, sulfur 3,70%, tembaga 5 ppm, besi 1200 ppm, mangan 12 ppm, seng 100 ppm, boron 80 ppm, senyawa organik 50-55%, dan kadar abu 45-50%.

ZPT pada rumput laut banyak terdapat dalam batang (thallus) sebagaimana pada rumput laut jenis Sargassum sp., dan juga dalam getah (sap), yakni konsentrat cair yang mengandung ZPT dan mineral yang berasal dari dalam batang, sebagaimana pada rumput laut Eucheuma sp.

Sumber :

Online Sinar Tani

Posted by Pupuk Cair Organik at 8:00 PM No comments:

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

Pupuk Ramah Lingkungan dari Rumput Laut

Berbagai jenis rumput laut yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis ternyata bisa digunakan sebagai bahan baku pupuk organik. Kandungan unsur hara mikro dan makronya lebih tinggi dari pupuk urea.

Lautan menyimpan begitu banyak sumber daya hayati yang bernilai jual tinggi. Selain beragam jenis ikan, kekayaan laut lainnya yang bermanfaat bagi manusia ialah rumput laut. Selama ini, rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, seperti jelly atau agar-agar, roti, salad, saus, dan es krim.

Selain bahan makanan, tumbuhan laut yang termasuk keluarga gangga itu dapat diolah menjadi minuman semisal yoghurt dan sirup. Rumput laut juga kerap diekstrak untuk dijadikan bahan baku farmasi, kosmetika, dan bahan bakar. Karenanya, tidak heran jika rumput laut jenis tertentu banyak dibudidayakan untuk memasok kebutuhan industri.

Menurut peneliti utama bidang produk alam laut dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rachmaniar Rachmat, ada beberapa jenis rumput laut bernilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Beberapa di antaranya Eucheuma, Gracilaria, dan Microphylum.

Ada lebih dari 600 spesies rumput laut yang tersebar di perairan Indonesia. Spesies-spesien rumput laut itu digolongkan ke dalam empat kelas, yaitu ganggang merah {Rhodophyceae), ganggang cokelat {Phaeophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), dan ganggang hijau-biru [Cyanophyceae).

Sayangnya, sebagian besar rumput laut itu belum diteliti dengan lebih mendalam mengenai kandungan zat-zatnya. Alhasil, jenis-jenis rumput laut itu dianggap memiliki nilai ekonomi yang rendah.

Rachmaniar mengatakan kebanyakan rumput laut yang kurang prospektif itu hidup liar di wilayah perairan Indonesia Timur, terutama di sekitar Pulau Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Jumlah rumput laut yang dianggap bernilai ekonomi rendah itu sebenarnya berpeluang untuk dijadikan pupuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro cukup tinggi.

Hal itu dapat dibuktikan dari adanya tumpukan limbah rumput laut di lingkungan sekitar industri yang memanfaatkan sumber daya nabati laut itu. Di tumpukan limbah rumput laut yang telah melapuk itu biasanya tumbuh gulma atau beraneka ragam tanaman.

“Hal itu menjadi indikasi rumput laut mengandung senyawa yang bermanfaat bagi tanaman,” ujar Rachmaniar yang juga menjadi Sekretaris Eksekutif Asosiasi Rumput Laut Indonesia.

Karena merupakan limbah industri, tumpukan rumput laut itu sudah terkontaminasi berbagai macam bahan kimia. Alhasil, kandungan pupuk yang dihasilkannya pun turut tercemar.
Berdasarkan hal itu ditelitilah kemungkinan membuat pupuk dari rumput laut yang bebas dari bahan kimia. Rumput laut yang dimanfaatkan ialah rumput laut yang dianggap bernilai ekoriomi rendah.
Berdasarkan hasil penelitian Rachmaniar diketahui rumput laut jenis Turbinaria dan Sargasum memiliki unsur hara makro dan mikro yang cukup lengkap. Unsur hara makro di antaranya nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur. Sedangkan unsur hara mikro antara lain besi, mangan, tembaga, seng, molibden, boron, dan klor.

“Unsur-unsur yang terkandung dalam pupuk rumput laut itu lebih banyak daripada pupuk urea yang dijual di pasaran,” klaim Rachmaniar.

Lebih lanjut, Rachmaniar menjelaskan pembuatan pupuk rumput laut dalam bentuk padat diawali dengan menghancurkan rumput laut sampai halus.
Tujuannya, agar bakteri penghancur dalam proses fermentasi dapat bekerja maksimal. Selain itu, senyawa laktosan (senyawa gula) dapat mudah menyatu.
Semua bahan baku pembuatan pupuk rumput laut itu dicampur dan dimasukkan ke dalam wadah semisal drum, plastik, atau tempat yang memungkinkan berlangsungnya proses fermentasi kedap udara. Apabila selama fermentasi terdapat udara, maka proses pembuatan pupuk pun akan gagal. Waktu fermentasi optimal untuk membuat pupuk rumput laut padat itu sekitar dua pekan. Setelah itu, pupuk dapat diberikan pada tanaman sayur, buah, dan bunga.

Selain pupuk padat, ada pula pupuk rumput laut cair. Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat pupuk cair tidak berbeda dengan pupuk padat.

Perbedaan hanya terletak pada proses pembuatan dan lamanya waktu fermentasi. Pupuk rumput laut cair membutuhkan penambahan air dengan waktu fermentasi selama lima hari.

Lebih Subur

Rachmaniar memaparkan berdasarkan hasil uji antara pupuk rumput laut baik padat, cair, maupun campuran keduanya dengan urea diketahui kondisi tanaman menggunakan pupuk rumput laut lebih subur. Dalam uji coba penyemprotan pupuk rumput laut dilakukan dua kali selama masa tanam.

Secara umum, tanaman yang diberi pupuk rumput laut menghasilkan batang lebih besar dan tegak, urat daun terasa kasar, batang tidak mudah patah, dan daun berwarna hijau serta tidak mudah sobek. Sedangkan tanaman yang disiangi pupuk urea memiliki batang yang mudah rebah dan patah, daun berwarna hijau tua, urat daun terasa halus, serta mudah sobek.

Uji efektivitas pupuk rumput laut pada tanaman selama empat pekan memberikan hasil tinggi tanaman yang diberi pupuk padat mencapai 32,8 sentimeter. Sedangkan tanaman yang diberi pupuk urea tingginya mencapai 32,2 sentimeter.

Panjang daun tanaman yang menggunakan pupuk rumput laut padat mencapai 13,7 sentimeter, sedangkan daun tanaman yang menggunakan pupuk urea memiliki panjang 9,3 sentimeter.

“Dari hasil uji efektivitas dapat ditarik benang merah bahwa dengan melihat kekuatan tanaman, ketahanan terhadap lingkungan, serta ukuran tanaman, maka paling efektif menggunakan pupuk rumput laut padat,” ujar Rachmaniar. Formula pupuk rumput laut itu rencananya akan dikomersialkan lewat suatu perusahaan swasta pada tahun ini.

Menurut doktor bidang kimia bahan alam dari Universitas Padjajaran, Bandung, itu meski memiliki banyak kelebihan, pupuk rumput laut juga memunyai kelemahan. Daun tanaman yang diberi pupuk rumput laut banyak yang berlubang karena dimakan ulat ketimbang daun tanaman yang diberi pupuk berbahan kimia.
Namun, di sisi lain, hal itu bisa menjadi indikator bahwa tanaman tidak membahayakan kesehatan manusia ketika dikonsumsi. “Kalau ulat saja takut mengonsumsi kimia, tentu ada sebabnya. Hal itu menujukkan tanaman yang diberi pupuk berbahan kimia sebenarnya berbahaya jika dikonsumsi manusia” ujar Rachmaniar.

Sumber : Koran Jakarta

Posted by Pupuk Cair Organik at 7:42 PM No comments:

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

Teknik Pembuatan Pupuk Rumput Laut

Rumput laut dapat digunakan untuk pupuk organik bagi tumbuh-tumbuhan.Rumput laut yang merupakan komoditas perikanan yang berupa tumbuhan, sekarang telah banyak dilakukan budidaya di perairan lepas pantai. Berikut teknik pembuatan pupuk dari rumput laut

  1. Rumput laut dalam bentuk padat diawali dengan menghancurkan rumput laut sampai halus. Tujuannya, agar bakteri penghancur dalam proses fermentasi dapat bekerja maksimal. Selain itu, senyawa laktosa (senyawa gula) dapat mudah menyatu;
  2. Semua bahan baku pembuatan pupuk laut itu dicampur dan dimasukkan ke dalam wadah semisal drum, plastik, atau tempat yang memungkinkan berlangsungnya proses fermenatasi kedap udara;
  3. Waktu fermentasi optimal untuk membuat pupuk rumput laut padat itu sekitar dua pekan;
  4. Selain pupuk pada, ada pula pupuk rumput laut cair, Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat pupuk cair tidak berbeda dengan pupuk padat;
  5. Perbedaan hanya terletak pada proses pembuatan dan lamanya waktu fermentasi. Pupuk rumput laut cair membutuhkan penambahan air dengan waktu fermentasi selam lima hari.

Posted by Pupuk Cair Organik at 7:41 PM No comments:

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

KEGUNAAN RUMPUT LAUT

Bernand Curtois merupakan orang pertama yang menemukan bahan yodium di dalamphaeophyceae, dan hal ini yang mendorong usaha di bidang industri kelp. Pada masa itu kelp merupakan dasar yang penting dalam industri yodium. Namun peranan kelptergeser setelah ditemukannya sumber chili saltpeter tahun1873. Akan tetapi Jepang dan Rusia tetap menggunakan kelp sebagai sumber utama pembuatan yodium (iodine). Pada kenyataannya industri kelp tetap memerlukan rumput laut yang memiliki kadar kelpyang tinggi. Kelp dibagi dalam dua komposisi, yaitu kelp yang besar atau tinggi dankelp yang kecil atau rendah. Kelp yang tinggi atau besar mengandung potassium (kallium) antara 15,1 – 21,95 persen, soda sekitar 13,7 – 16,85 persen serta kadar yodium sekitar 0,55 – 0,67 persen, sedangkan kelp yang rendah mengandung lebih sedikit zat-zat di atas. Sebanyak 5 hingga 10 ton kelp dapat menghasilkan satu ton ekstrak yang terdiri dari 28 persen garam sodium, 30 persen garam potassium dan 1 persen iodine. Kadar yodium tanaman phaeophyceae 30.000 kali lebih besar dibandingkan kadar yodium air laut.

Manfaat rumput laut tidak hanya sebagai bahan industry yodium.

Beberapa jenis rumput laut digunakan sebagai makanan ternak di beberapa Negara seperti Irlandia dan Skotlandia, yaitu Rhodymenia dan Allaria untuk ternak biri-biri, kambing dan lembu.

Rumput laut juga dapat digunakan sebagai pupuk organic karena banyak mengandung kalium terutama dari kelas Rhodophyceae dan phaeophyceae. Negara Cina, Jepang, Inggris, Prancis, dan Kanada menggunakan pupuk rumput laut untuk meningkatkan hasil panen mereka terutama pada pemupukan kentang, ubi kayu, dan ubi jalar. Cara penggunaan rumput laut sebagai pupuk akan lebih tepat lagi bila dicampur dengan pupuk kandang sebelum digunakan, karena akan cepat membuat pupuk campuran ini menjadi busuk, sehingga memungkinkan nitrogen serta fosfor segera terpakai. Pemupukan dengan menggunakan rumput laut membantu mengikat pasir, memecah tanah liat atau lumpur dan menggemburkan tanah.

Sumber :

http://rumputlaut.org

 

 In addition, the PGPR are only beneficial to plants under specific environmental situations, such
as high disease pressure or low nutrient 
 All nitrite-oxidizing bacteria are members of the “a”
subdivision of the pro- teobacteria, with 
nitrobacter normally con- side

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: